Indonesia kaya tanaman obat yang berpotensi dikembangkan menjadi obat herbal. Tak khayal jika masyarakat Indonesia sudah terbiasa mengonsumsi obat-obatan herbal. Bahkan banyak yang beranggapan obat herbal lebih aman dikonsumsi dibandingkan obat konvensional.
Meski demikian, obat herbal belum tentu aman 100% untuk dikonsumsi. Apalagi jika diminum secara bersamaan dengan obat konvensional atau obat kimia, maka berpeluang menimbulkan interaksi obat yang membahayakan bagi tubuh. Oleh sebab itu, masyarakat dilarang asal mencampur obat herbal dan obat konvensional. “Ada aturan yang perlu diketahui. Tidak semua kandungan obat aman dicampur dengan jenis obat lainnya,” kata Dosen Program Studi (Prodi) Profesi Apoteker IIK Bhakti Wiyata Apt Erni Anikasari SFarm MFarm (Klin).
Erni menjelaskan obat tradisional atau obat herbal perlu dilakukan uji praklinik terlebih dulu untuk mengetahui fungsinya. “Kerja obat herbal dalam tubuh lambat karena zat aktifnya sedikit,” ujarnya. Oleh sebab itu, masih banyak orang yang beranggapan minum obat herbal dan obat kimia bersamaan dapat menambah efektivitasnya. Padahal tindakan itu justru kontaproduktif karena berpotensi menimbulkan interaksi obat yang merugikan.
Contohnya, obat hipertensi yang memiliki kandungan Lisinopril, Captopril, dan Ramipril. Jika konsumsi obat hipertensi dicampur dengan obat herbal, maka dapat menyebabkan hipertensi lebih tinggi bahkan pingsan. “Ada interaksi dan nyata,” tegasnya. Karena ada banyak interaksi obat ini, Erni menganjurkan pasien selalu melakukan konsultasi dokter dulu sebelum mengonsumsi obat herbal.
Untuk menghindari efek samping negatif, Erni memberikan tips dalam mengonsumsi obat herbal maupun obat kimia. Sebaiknya jangan dikonsumsi dua jenis obat ini dalam waktu bersamaan. Pasien dapat memberikan jeda waktu selama 2-3 jam.
Pemberian obat bisa diberi jeda waktu 2-3 jam antara obat konvensional dan obat herbal. Jadi interaksi kedua jenis itu dapat berjalan minimal, namun tetap berfungsi maksimal. Lantas mana yang lebih didulukan? Erni menjelaskan hal tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Jika perlu efektivitas lebih cepat, Anda dapat mendahulukan konsumsi obat kimia lebih dulu. Setelah 2-3 jam, barulah Anda dapat mengonsumsi obat herbal sebagai pendukung. Begitu juga sebaliknya, Anda dapat juga minum obat herbal dulu, lalu diikuti dengan obat kimia setelah 2-3 jam.
Dengan memperhatikan cara konsumsi obat secera tepat, Anda dapat memperoleh fungsinya secara maksimal. Ulasan ini juga dapat dinikmati dalam bentuk video di Official Youtube Channel IIK Bhakti Wiyata.