Kesehatan merupakan salah satu komponen utama dalam indikator keberhasilan pembangunan manusia, dimana hal ini dapat mendukung terciptanya sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan terampil. Untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas, perlu dilakukan gaya hidup yang sehat, terutama pada remaja sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, tim kajian gizi, epidemiologi dan promosi kesehatan ilmu perilaku IIK BW Kediri yang kemudian dilaksanakan di SMAN 1 Mojo Kabupaten Kediri. Lokasi ini dipilih karena sangat strategis bagi siswa untuk jajan sembarangan yang menyebabkan kesehatan siswa ini tidak terkontrol dan kebiasaan konsumsi junk food. Selain itu, sebagian siswa merupakan santri, dimana mereka tidak diawasi langsung oleh orang tua dalam hal perilaku sehari-hari. Kementerian Kesehatan RI mengajak masyarakat untuk CERDIK dalam mengendalikan penyakit tidak menular (PTM).
Menurut data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi penyakit tidak menular mengalami kenaikan dibandingkan dengan data Riskesdas 2013, seperti kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes mellitus dan hipertensi pada usia ≥ 15 tahun. Prevalensi kanker di tahun 2013 sebesar 1,4%, sedangkan di tahun 2018 menjadi 1,8%. Prevalensi stroke sebesar 7% menjadi 10,9%, prevalensi penyakit ginjal kronik sebesar 2% menjadi 3,8%, prevalensi diabetes mellitus sebesar 6,9% menjadi 8,5%, prevalensi hipertensi dari 25,8% menjadi 34,1%, prevalensi merokok pada remaja (10-18 tahun) sebesar 7,2% menjadi 9,1%, prevalensi gangguan jiwa 1,7% menjadi 7% (Kemenkes, 2018). Kenaikan prevalensi penyakit tidak menular tersebut berhubungan dengan gaya hidup yang tidak sehat.
Acara yang diadakan pada tanggal 22 Oktober 2019 ini diawali dengan sambutan Wakil Kepala Sekolah SMA N 1 Mojo Kabupaten Kediri Bapak drs. Bambang Pruwanto, M.Pd. Antusiasme siswa saat mendapatkan materi sangat tinggi ditunjukkan dengan keterlibatan mereka selama program berlangsung yaitu memberikan umpan balik dan mau terlibat saat simulasi dilakukan. Kemudian para siswa yang terlibat program ini diharapkan akan menjadi kader pencegahan penyakit tidak menular melalui penerapan perilaku cerdik (CERDIKiawan).
“Program ini rencanya kita adakan bertahap dan berkelanjutan, kedepan akan ada program kedua atau evaluasi, kami juga berharap program ini tepat sasaran dan bermanfaat bagi sekolah dan masyarakat secara umum” ungkap Ibu Niningtyas, S.Gz, M.Gz. selaku ketua pelaksana program pengabdian masyarakat ini.
Program yang diharapkan berkelanjutan ini ditujukan pada siswa kelas X, dengan tujuan akan dilakukan follow-up melalui beberapa tahapan program. Pemilihan siswa SMA sebagai sasaran bertujuan untuk pencegahan penyakit tidak menular sejak dini. “Penyakit tidak menular bukanlah penyakit yang muncul seketika, namun jenis penyakit ini bersifat kronis atau dimulai dari beberapa tahun lampau dan akan menetap dalam jangka waktu yang lama atau bisa saja berujung kematian, sehingga pencegahan perlu dilakukan sejak remaja bahkan dini” kata Niningtyas.
Selain menghasilkan kader CERDIKiawan program ini diharapkan menghasilkan data awal skrining faktor risiko maupun pencegahan penyakit tidak menular di kelompok umur remaja. Selain berguna untuk sekolah, program ini juga bermanfaat bagi masyarakat sekitar sekolah karena siswa yang terlibat berasal dari lingkungan sekolah. “Seperti yang kita ketahui karena adanya zona sekolah maka siswa yang jadi sasaran bisa memanfaatkan ilmu yang kita berikan untuk lingkungan sekitarnya.” Lanjut Niningtyas.